WeNewscom. Maros, 19 Oktober 2025 — Dalam tradisi adat Makassar, songkok guru bukan sekadar penutup kepala, melainkan lambang kehormatan dan kebijaksanaan. Songkok ini biasanya dikenakan oleh para tokoh adat, pemuka agama, serta guru yang dihormati karena ilmu dan keteladanan mereka.
Songkok guru memiliki bentuk khas dengan anyaman benang emas atau perak yang disulam secara diagonal, mencerminkan ketelitian dan nilai luhur masyarakat Makassar. Warna dominannya Emas atau cokelat tua, menandakan kewibawaan dan keteguhan hati.
Menurut tokoh budaya lokal, pemakaian songkok guru menandakan bahwa seseorang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mengemban tanggung jawab moral untuk membimbing masyarakat menuju kebaikan. Dalam setiap upacara adat seperti Mempo Sipatangari, Accerakalompoang, hingga pernikahan adat, songkok guru menjadi simbol kehadiran nilai-nilai kebijaksanaan dan kehormatan.
Kini, songkok guru mulai kembali populer di kalangan muda, terutama dalam kegiatan budaya dan pendidikan. Upaya pelestarian ini menjadi langkah penting agar generasi penerus tetap mengenal jati diri dan filosofi luhur di balik warisan leluhur Makassar.
Dengan demikian, songkok guru tidak hanya menjadi bagian dari busana adat, tetapi juga warisan nilai spiritual dan intelektual yang memperkuat identitas budaya masyarakat Makassar hingga masa kini.







